Efisiensi fabrikasi dan integritas struktural adalah dua pilar utama yang tidak bisa ditawar. Untuk elemen krusial seperti balok built-up, profil baja yang dirakit dari beberapa pelat baja untuk mencapai dimensi dan kekuatan spesifik, kualitas sambungan las menjadi penentu utama. Di sinilah metode Submerged Arc Welding (SAW) atau pengelasan busur terendam hadir sebagai solusi unggul.
Pengelasan Submerged Arc (SAW) adalah proses pengelasan otomatis yang menghasilkan sambungan berkualitas tinggi dengan kecepatan dan efisiensi superior, menjadikannya pilihan ideal untuk fabrikasi balok built-up. Proses ini melibatkan busur las yang terendam di bawah lapisan flux (serbuk pelindung), yang melindungi area las dari kontaminasi atmosfer secara total. Hasilnya adalah sambungan las yang bersih, memiliki penetrasi mendalam, dan bebas dari cacat seperti percikan (spatter).
Tingkat deposisi (jumlah logam las yang diendapkan per jam) pada metode SAW bisa mencapai 10 kali lipat dibandingkan pengelasan manual seperti SMAW. Proses SAW dengan kawat tunggal saja dapat mencapai deposisi hingga 40 lbs/jam (sekitar 18 kg/jam), sementara sistem multi-kawat dapat melampaui 100 lbs/jam (45 kg/jam). Efisiensi ini secara langsung memangkas waktu produksi dan biaya tenaga kerja pada proyek skala besar.
Mengapa Submerged Arc Welding (SAW) Menjadi Pilihan Utama untuk Fabrikasi Balok Built-up?
SAW menjadi pilihan utama karena sinergi antara kecepatan pengelasan yang sangat tinggi, penetrasi las yang dalam, dan kualitas sambungan yang konsisten. Karakteristik ini sangat cocok untuk menyambung pelat-pelat tebal pada profil built-up yang membutuhkan jalur las panjang dan tanpa putus, sehingga menjamin integritas dan stabilitas struktur secara keseluruhan.
Fabrikasi balok built-up, seperti profil H-Beam atau I-Beam kustom, melibatkan pengelasan longitudinal antara pelat web (badan) dan flange (sayap). Proses ini menuntut beberapa kriteria yang secara inheren dipenuhi oleh metode SAW:
- Tingkat Deposisi Tinggi untuk Efisiensi Maksimal: Balok built-up seringkali memiliki panjang puluhan meter. Proses SAW yang otomatis memungkinkan pengelasan kontinu tanpa henti, menghasilkan tingkat deposisi material yang sangat tinggi. Ini secara drastis mengurangi waktu yang dibutuhkan dibandingkan metode manual atau semi-otomatis yang memerlukan penggantian elektroda dan lebih banyak jeda.
- Penetrasi Las yang Dalam dan Konsisten: Kekuatan sebuah balok built-up bergantung pada kualitas sambungan las antara web dan flange. SAW menghasilkan panas yang terkonsentrasi, menciptakan akar las dengan penetrasi yang dalam dan seragam. Hal ini memastikan penyatuan material yang sempurna, krusial untuk menahan beban lentur dan tegangan geser.
- Kualitas Sambungan Superior dan Minim Cacat: Lapisan flux pada proses SAW berfungsi sebagai pelindung utama dari kontaminasi oksigen dan nitrogen di udara. Perlindungan ini, ditambah dengan pendinginan yang lebih lambat di bawah lapisan terak (slag), meminimalkan risiko cacat las seperti porosity (rongga gas) dan retak. Hasilnya adalah weld bead yang halus dan bersih, mengurangi kebutuhan perbaikan pasca-pengelasan.
- Lingkungan Kerja yang Lebih Aman dan Bersih: Karena busur las terendam sepenuhnya di bawah flux, proses SAW hampir tidak menghasilkan percikan las (spatter), asap, maupun radiasi busur yang intens. Ini menciptakan lingkungan kerja yang lebih aman dan nyaman bagi operator las atau welder.
Bagaimana Proses dan Parameter Kunci SAW Menjamin Integritas Struktural?
Integritas struktural dijamin melalui pengaturan parameter pengelasan yang presisi. Operator harus mengontrol variabel-variabel berikut untuk mendapatkan hasil optimal:
- Arus Pengelasan (Amperage): Mengontrol kedalaman penetrasi dan tingkat deposisi.
- Tegangan Busur (Voltage): Mempengaruhi lebar dan bentuk kampuh las.
- Kecepatan Gerak (Travel Speed): Menentukan jumlah panas yang masuk per satuan panjang las.
- Jenis Kawat Elektroda & Flux: Kombinasi yang tepat harus disesuaikan dengan grade baja yang digunakan.
Proses SAW pada dasarnya adalah sebuah sistem pengelasan robotik atau mekanis. Sebuah kepala las bergerak secara otomatis di sepanjang jalur sambungan, sambil secara kontinu mengumpankan kawat elektroda (filler metal) dan menaburkan flux dari sebuah corong (hopper). Busur listrik terbentuk antara ujung kawat dan benda kerja, melelehkan kawat, flux, dan logam dasar untuk membentuk kolam las.
Karena operator tidak dapat melihat busur secara langsung, pengaturan parameter sebelum proses dimulai menjadi sangat krusial.
| Parameter Kunci | Pengaruh pada Hasil Las | Rekomendasi untuk Balok Built-up |
| Arus (Ampere) | Meningkatkan penetrasi dan laju deposisi. Arus yang terlalu tinggi berisiko burn-through atau undercut. | Disesuaikan dengan tebal flange (t2) dan tebal web (t1). Arus yang lebih tinggi digunakan untuk pelat yang lebih tebal. |
| Tegangan (Volt) | Memperlebar kampuh las dan meningkatkan konsumsi flux. Tegangan terlalu tinggi membuat lasan datar dan rentan retak. | Diatur untuk menghasilkan kaki las yang sesuai dengan desain, memastikan transfer beban yang efektif. |
| Kecepatan Gerak | Mengurangi input panas dan membuat kampuh las lebih kecil. Kecepatan terlalu tinggi menyebabkan penetrasi dangkal. | Dioptimalkan untuk keseimbangan antara produktivitas dan kualitas. Kecepatan yang lebih lambat memastikan penetrasi penuh. |
| Polaritas | DCEP (Direct Current Electrode Positive) memberikan penetrasi terbaik. DCEN (Direct Current Electrode Negative) memberikan deposisi tertinggi. AC (Alternating Current) adalah kompromi keduanya. | DCEP sering menjadi pilihan untuk sambungan kritis pada balok built-up yang menuntut penetrasi maksimal. |
Kombinasi parameter ini harus ditetapkan dalam sebuah WPS (Welding Procedure Specification) yang telah terkualifikasi melalui PQR (Procedure Qualification Record).
Apa Saja Kelebihan dan Kekurangan Pengelasan SAW Dibanding Metode Lain?
Keunggulan utama SAW adalah kecepatan, efisiensi, dan kualitas las yang superior untuk material tebal di posisi datar. Namun, kekurangannya adalah keterbatasan pada posisi pengelasan (hanya datar dan horizontal), kebutuhan peralatan yang lebih kompleks, dan visibilitas busur yang nihil sehingga memerlukan pengaturan presisi di awal.
Berikut perbandingan komprehensif antara SAW dengan metode pengelasan populer lainnya dalam konteks konstruksi baja berat:
Kelebihan Submerged Arc Welding (SAW)
- Produktivitas Tertinggi: Tingkat deposisi logam las jauh melampaui SMAW (Shielded Metal Arc Welding) dan GMAW (Gas Metal Arc Welding), ideal untuk proyek bervolume besar.
- Kualitas Las Prima: Perlindungan flux yang superior menghasilkan sambungan yang sangat bersih, kuat, dan memiliki sifat mekanik yang baik.
- Penetrasi Dalam: Mampu mengelas material tebal dalam satu lintasan (single pass), mengurangi waktu dan distorsi.
- Efisiensi Consumable: Sebagian besar flux yang tidak meleleh dapat didaur ulang, menekan biaya material.
- Keselamatan dan Kenyamanan Operator: Minim asap, percikan, dan radiasi UV, menciptakan lingkungan kerja yang lebih baik.
Kekurangan dan Mitigasinya
- Keterbatasan Posisi: Proses ini umumnya hanya efektif untuk posisi pengelasan datar (flat) dan horizontal (horizontal-fillet).
- Mitigasi: Untuk fabrikasi balok built-up, digunakan positioner atau jig yang dapat memutar balok sehingga area pengelasan selalu berada di posisi datar.
- Visibilitas Proses Nihil: Operator tidak bisa melihat kolam las secara langsung, sehingga sulit melakukan koreksi saat proses berjalan.
- Mitigasi: Ketergantungan tinggi pada pengaturan parameter yang akurat, penggunaan sistem pemandu laser, dan inspeksi visual ketat pasca-pengelasan.
- Risiko Terak Terperangkap (Slag Inclusion): Jika parameter atau desain sambungan tidak tepat, terak bisa terperangkap di dalam lasan.
- Mitigasi: Memastikan desain sambungan (sudut bevel) yang benar, arus yang cukup, dan pembersihan terak yang menyeluruh jika memerlukan pengelasan multi-lintasan.
Dari Persiapan hingga Inspeksi Las SAW pada Balok Built-up
Proses fabrikasi balok built-up dengan SAW melibatkan empat tahap utama: (1) Persiapan material dan perakitan, (2) Pengaturan parameter dan pengelasan, (3) Pembersihan terak, dan (4) Inspeksi kualitas akhir menggunakan metode NDT untuk memastikan tidak ada cacat tersembunyi.
Untuk memastikan hasil akhir memenuhi standar AWS D1.1 atau SNI 1729, setiap tahapan harus dilakukan dengan cermat oleh fitter dan welder yang kompeten.
- Persiapan dan Perakitan (Assembly):
- Pemotongan (Cutting) pelat baja (biasanya ASTM A36 atau grade yang lebih tinggi) sesuai dimensi profil yang dibutuhkan.
- Persiapan permukaan (Surface Preparation) di area sambungan untuk menghilangkan karat, minyak, dan kontaminan lain.
- Pelat web dan flange dirakit di atas meja las (welding table/jig) dan di-tack weld (las titik) untuk menjaga posisi dan kelurusan.
- Pengaturan dan Eksekusi Pengelasan:
- Mesin SAW diposisikan di jalur las. Parameter seperti arus, tegangan, dan kecepatan diatur sesuai WPS.
- Operator memulai proses, dan mesin akan bergerak secara otomatis di sepanjang sambungan, meninggalkan jejak las yang tertutup flux.
- Pembersihan Terak (Slag Removal):
- Setelah pengelasan selesai dan area mendingin, lapisan terak (slag) yang mengeras di atas lasan akan pecah dan dihilangkan menggunakan chipping hammer atau sikat baja.
- Flux yang tidak terpakai disedot kembali oleh sistem vakum untuk digunakan kembali.
- Inspeksi dan Pengujian Kualitas:
- Seorang Welding Inspector melakukan inspeksi visual untuk memeriksa cacat permukaan seperti undercut atau keretakan.
- Untuk memastikan tidak ada cacat internal, dilakukan NDT (Non-Destructive Testing). Metode yang umum digunakan adalah:
- Pengujian Ultrasonik (UT): Mendeteksi cacat di bawah permukaan seperti retak atau kurangnya fusi.
- Pengujian Partikel Magnetik (MT): Efektif untuk mendeteksi cacat di permukaan atau sedikit di bawah permukaan.
Kesimpulan
Pengelasan Submerged Arc (SAW) bukan sekadar pilihan, melainkan sebuah investasi strategis untuk fabrikasi balok built-up dalam proyek konstruksi baja di Bali. Keunggulannya dalam hal kecepatan, kualitas sambungan yang konsisten, dan penetrasi yang dalam menjadikannya metode yang paling andal untuk memastikan integritas struktur baja yang menopang beban berat. Meskipun memerlukan investasi awal pada peralatan dan keahlian dalam pengaturan parameter, manfaat jangka panjang berupa efisiensi produksi, pengurangan biaya tenaga kerja, dan keandalan struktural yang superior membuatnya sangat layak dipertimbangkan.
Bagi para profesional di bidang fabrikasi baja, langkah selanjutnya adalah:
- Evaluasi Proyek: Pertimbangkan volume dan jenis pekerjaan. Jika proyek Anda melibatkan banyak sambungan lurus dan panjang pada material tebal, SAW adalah kandidat kuat.
- Kualifikasi Prosedur: Kembangkan dan kualifikasikan WPS khusus untuk aplikasi balok built-up Anda sesuai standar yang berlaku.
- Investasi pada Pelatihan: Pastikan tim Anda, mulai dari Welding Engineer hingga operator, memahami seluk-beluk proses SAW.
Mulailah dengan mengidentifikasi satu komponen struktural berulang dalam proyek Anda, seperti balok lantai utama, dan lakukan analisis biaya-manfaat untuk mengalihkannya dari metode pengelasan manual ke SAW. Ukur penghematan waktu dan peningkatan kualitasnya sebagai studi kasus internal.
